Rabu, 23 November 2011

Peran Koperasi dalam Perekonomian dan Pembangunan Sistem Agribisnis

Bagi Masyarakat Indonesia koperasi sudah tidak asing lagi, koperasi merupakan suatu bentuk usaha yang bercirikan kebersamaan atau berasaskan kekeluargaan. Koperasi di Indonesia bergerak dalam berbagai bidang untuk mencapai kesejahteraan masyarakat, salah satunya di bidang pertanian. Mengingat sebagian besar penduduk Indonesia bermata pencaharian sebagai petani maka peranan koperasi dalam bidang pertanian sangatlah dibutuhkan dan memiliki andil yang sangat besar bagi kepentingan para petani.
Usaha dalam bidang pertanian merupakan kegiatan yang banyak menghadapi kendala diantaranya adalah penerapan manajemen pertanian, permodalan, informasi, tingkat pendidikan dan teknologi. Koperasi merupakan salah satu upaya untuk mengatasi kendala yang dihadapi oleh petani tersebut, namun sampai saat ini peran yang diharapkan oleh  Koperasi belum bisa dilaksanakan dengan baik dan bahkan banyak  koperasi yang tidak bisa menjalankan fungsinya.
Masa globalisasi seperti saat ini membawa konsekuensi yang serius dalam hal pengadaan pangan karena konsep liberalisasi menyerahkan roda perekonomian kepada mekanisme pasar yang pada praktiknya tidak berpihak kepada komunitas ekonomi lemah. Sebagai contoh belum tertatanya sistem produksi dan distribusi dalam mencegah perubahan yang terjadi. Semula peran Bulog sangat dominan dalam pengadaan pangan tapi setelah paket kredit pengadaan pangan melalui koperasi dihapus, maka pengadaan pangan diserahkan kepada mekanisme pasar.
Umumnya koperasi dikendalikan secara bersama oleh seluruh anggota, dimana setiap anggota memiliki hak suara yang sama dalam setiap keputusan yang diambil koperasi. Pembagian keuntungan koperasi (Sisa Hasil Usaha atau SHU) dihitung berdasarkan andil setiap anggota dalam koperasi, misalnya dengan melakukan pembagian dividen berdasarkan besar pembelian atau penjualan yang dilakukan oleh anggota.
Pengertian koperasi menurut UU Koperasi No. 12 Tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian adalah sebagai berikut :  “ Koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang merupakan tata susunan ekonomi usaha bersama atas asas kekeluargaan “ (Anoraga, 1995).
Sejak PELITA 1 pemerintah Indonesia menunjukkan tekad politik yang besar untuk memprioritaskan pembangunan pedesaan atau pembangunan ekonomi pedesaan, sedangkan penduduk pedesaan memang masih hidup serta kekurangan memerlukan perhatian khusus supaya bisa meningkatkan taraf hidupnya secara keseluruhan pemerintah harus menekankan pada kebijaksanaan–kebijaksanaan yang strategis.  Artinya program yang terbataspun diharapkan memberi dampak besar bagi keseluruhan perekenomian pedesaan.  Salah satu contoh nyata adalah program pembinaan lembaga Koperasi Unit Desa (KUD) (Mubyarto , 1990).
Terdapat beberapa permasalahan-permasalahan yang di hadapi dalam pembangunan pertanian di Indonesia terutama masalah kelembagaan pertanian yang dapat disebabkan karena faktor intern maupun ekstern. Faktor intern misalnya kurangnya pemahaman tentang apa itu koperasi dan kinerjanya, kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap koperasi. Faktor ekstern bisa dari pemerintah misalnya kurangnya pemberdayaan yang dilakukan pemerintah terhadap koperasi-koperasi di lingkup kita.
Kelembagaan atau koperasi petani di Indonesia kurang berkembang dengan baik adalah secara mendasar kegagalan ini adalah disebabkan koperasi yang berbasis kekuatan manusia, atas dasar persamaan dan kebersamaan, satu orang satu suara, dihadapkan kepada lingkungan yang didominasi oleh kekuatan materi dalam bentuk kapital, satu saham satu suara. Konsep pemberdayaan masyarakat pedesaan melalui koperasi bukanlah konsep baru, banyak kendala dan hambatan yang harus diperhatikan dalam pengembangan koperasi di pedesaan, diantaranya adalah : 
  1. Rendahnya minat masyarakat untuk bergabung dalam kelompok tani/koperasi, hal ini disebabkan karena kegagalan-kegagalan dan stigma negatif tentang kelembagaan tani/koperasi yang terbentuk di dalam masyarakat. Kegagalan yang dimaksud diantaranya adalah ketidakmampuan kelembagaan tani/koperasi dalam memberikan kebutuhan anggotanya dan ketidakmampuan dalam memasarkan hasil produk pertanian anggotanya. 
  2. Adanya ketergantungan petani kepada tengkulak akibat ikatan yang ditimbulkan karena petani melakukan transaksi dengan para tengkulak (pinjaman modal, dan memasarkan hasil).
  3. Rendahnya SDM petani di pedesaan menimbulkan pemahaman dan arti penting koperasi terabaikan.
Pada kenyataannya kelembagaan pertanian atau koperasi pertanian di Indonesia kurang berkembang dengan baik hal ini karena dalam upaya pengembangan sistem agribisnis masih banyak terdapat kendala-kendala atau permasalahan yang sering di jumpai, yaitu salah satunya terdapat sisi kelemahan koperasi pertanian dimana strukturisasi, reposisi dan core bisnis, lambat berkembang di bandingkan koperasi swasta dan koperasi pegawai negeri, kurangnya kualitas sumberdaya manusia pelaku lembaga agribisnis dimana tingkat pendidikan SDM masih rendah dan masih adanya SDM yang sering menyalahgunakan kewenanganya untuk kepentingan pribadi, fasilitas yang terdapat di lembaga agribisnis khususnya di pedesaaan masih rendah. Arti koperasi sesungguhnya masih banyak masyarakat yang belum memahami apa arti koperasi sebenarnya, koperasi hanyalah diartikan oleh sebagian orang hanya sebagai tempat meminjam uang kalau sudah menjadi anggota koperasi, dapat membeli barang kebutuhan dengan harga yang murah, dapat membeli pupuk dengan jarga terjangkau, hanya sampai disitu. Ironis memang kalau demikian, tapi memang kenyataan, kalau begini bukan berarti salah urus, tapi memang masih membutuhkan waktu yang sangat panjang dalam membangun jatidiri koperasi.Sebuah tantangan bagi kita semua untuk bersama-sama ikut membangun koperasi.
Fungsi dan peran dari kelembagaan agribisnis bagi pembangunan pertanian dan perekonomian Indonesia adalah sebagai berikut:

1.   Membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan Petani pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya.Berperan serta secara aktif dalam upaya mempertinggi kualitas kehidupan Petani dan masyarakat.
2.   Memperkokoh perekonomian Petani sebagai dasar kekuatan dan ketahanan bagi pembangunan pertanian dan perekonomian nasional dengan koperasi sebagai soko-gurunya.
3.   Berusaha untuk mewujudkan dan mengembangkan perekonomian nasional, yang merupakan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan dan demokrasi ekonomi.
4.   Mengembangkan kreativitas dan membangun jiwa berorganisasi bagi para petani.

(Note::diambil dari tugas MK Koperasi dan Kelembagaan Agribisnis)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar